Menelusuri Pelacuran ABG di Sejumlah Kota.

MAKASAR – SULAWESI

Berbeda lagi dengan Ogi, menggeluti dunia pelacuran memang semata-mata karena butuh uang untuk hidup. Anak bungsu dari dua bersaudara ini, orang tuanya hanya daeng becak (tukang becak).
Gadis berparas cantik ini, dalam usia yang sudah 16 tahun, hidupnya lebih mapan. Ia memiliki handphone dan pakaian serta alat kecantikan yang diapakai dari merek-merek terkenal.
Ia adalah salah satu penghuni Losari, yang oleh teman-temannya dianggap sudah ’sukses’, karena sudah pernah kawin kontrak dengan seorang pria warga negara Jepang.
Ia meninggalkan Pantai Losari, karena mendapat lokasi lain yang lebih menjanjikan, “Ada yang mengajak saya kerja sebagai pelayan di salah satu karaoke,” katanya.
Berangkat dari situ, ia ingin meraih ‘prestasi’. Ia ingin memerankan peran ganda baik sebagai pelayan bir maupun sebagai budak nafsu. “Mulanya saya ragu menawarkan diri,” katanya. Namun alangkah girangnya bukan main ketika seorang warga negara keturunan Tionghoa memberinya uang Rp 200.000 setelah diajak kencan.
Selain di tempat itu, mereka juga bisa ditemui di bioskop Studio 21 atau di pinggir Jalan Dr Sam Ratulangi. Salah satu ABG yang mangkal di Jl Sam Ratulangi, Ogi, 18 tahun. Ia hanya mau diajak kencan oleh orang-orang gedongan dengan imbalan Rp 250.000 hingga Rp 400.000.
“Gengsi dong kencan dengan sembarang orang,” katanya. Dengan demikian, wajar jika bisa memakai handphone serta pakaian bermerek lainnya. “Kalau bukan di hotel saya tidak mau kencan,” katanya. Paling tidak, hotel kelas melati.
Sebenarnya, Ogi bukanlah berasal dari kalangan keluarga miskin. Tetapi mengapa sampai terjerumus ke lembah nista? Menurut dia, akibat kegagalan membina hubungan dengan kekasihnya, telah membuatnya kehilangan harapan. Yang membuatnya lebih sakit, karena yang merebut kekasihnya itu adalah keluarganya sendiri. Akhirnya lari dari rumah untuk hidup di ‘alam bebas’, “Saya sekarang ngontrak rumah,” katanya.
Ia kini telah hidup sebagai istri peliharaan dari seorang pengusaha berkewarganegaran Tionghoa, selain juga berkencan dengan banyak pria.
Cici, 16 tahun juga memasang tarif cukup mahal, Rp 250 ribu sekali kencan. Penampilan sama sekali tidak mengesankan sebagai etek. Bahkan bisa dibilang sangat sopan. Ia juga tidak ingin menjajakan diri secara terbuka. “Saya tidak biasa mangkal di tempat terbuka,” katanya. Selama ini ladang operasinya, lebih banyak menjaring mangsa di night club seperti Ziqzaq di Makassar Golden Hotel (MGH) atau di M Club Kawasan perumahan elite Panakukang Mas.
Etek ‘elite’ ini, dalam beroperasi memiliki kata sandi. Biasanya mereka mengatakan mau ke ATM jika ditanya oleh rekan-rekannya saat ke luar dari rumah, “ATM, kan identik dengan uang,” tutur Cici.
Menurut dia, sudah banyak pria yang mengajaknya kencan di berbagai hotel, kelas melati maupun berbintang. Ia menyebut beberapa hotel seperti yang terletak di Jl Emy Saelan, Jl Cenderawasih, Jl Bhayangkara, Jl Penghibur, dan Jl Dr Samratulangi. Soal tarif, bagi pria yang tidak begitu dikenalnya tidak ada kompromi. “Nginap bisa Rp 400.000. Kalau hanya dua sampai tiga jam saja, Rp 250.000 sampai Rp 300.000,” ujarnya.
Bagi Cici, tidak semua uang diperolehnya berasal dari ‘hasil keringat’ begituan, “Ada juga ngasih uang karena pertemanan,” ujar. Pengalamannya, tidak semau laki-laki hidung belang yang mengajak kencan langsung masuk kamar. “Keliling kota dulu atau menikmati hidangan di warung atau restauran,” ujarnya lagi.
Cara mencari mangsa, tidak terang-terangan. Mereka tetap berusaha menahan diri. Biasanya diawali obrolan basa-basi di dalam night club, “Lelaki yang punya pengalaman, tentu langsung bisa menangkap apa arti obrolan itu,” ujar Cici.
Mereka juga bisa mencari mangsa melalui germo atau cukung. Salah seorang cukong, Sun, 26, tahun mengaku mendapat penghasilan Rp 50.000 tiap malam, “Satu wanita komisinya Rp 10.000,” ujarnya.
Sun yang kawasan operasinya di Makassar Golden Hotel (MGH) tidak sungkan mempromosikan ‘produknya’, “Ada namanya Yana, Evi. Semuanya anak belasan tahun yang penampilannya oke,” katanya.
Menurut Cici, yang paling tidak menyenangkan kencan dengan pria, kalau menuntutnya macam-macam, seperti oral seks atau melalui bagian ‘belakang’. Karena segan lantaran sudah dibayar, biasanya dipenuhi juga, “Sebenarnya jijik. Tapi cara mengatasinya, merem aja,” ujarnya.

album baru gigi(peace love & respect)

gigi`11januari

gigi`nakal

gigi`kagum

gigi`matikan cintaku

gigi`cinta palsu

gigi`untukmu

gigi`tuk rasa…tuk cinta

gigi`romansa yang hilang

gigi`percayalah

gigi`kembalilah kasih

bagi yang ingin mendownload kunjungi http://libukang.multiply.com/music/

Ratusan Rumah Terendam Tanggul Irigasi Padang Sappa, Luwu, Bobol

Belopa,- Ratusan rumah warga di daerah Padangan Sappa, Kecamatan Buffon, Kabupaten Luwu, Minggu (24/6) malam, terendam banjir dengan ketinggian air mencapai satu meter.
Banjir yang melanda daerah Padanga Sappa ini disebabkan karena bobolnya tanggul irigasi di daerah tersebut. Hujan deras terus mengguyur daerah ini selama beberapa hari terakhir.
“Sampai sekarang ketinggian air masih mencapai satu meter dan kemungkinan akan bertambah tinggi karena hujan nampaknya akan terus mengguyur daerah Padang Sappa,” kata Sofyan, salah seorang warga Padang Sappa, Minggu (24/6).
Fian menuturkan, selain menggenangi ratusan rumah warga, banjir ini juga menggenangi ratusan hektare lahan perkebunan dan persawahan milik warga. Kerugian yang diakibatkan banjir ini ditaksir hingga ratusan juta rupiah.
Informasi yang dihimpun Tribun, hingga pukul 20.00 wita tadi malam, ketinggian air sudah mencapai 1,5 meter. Di beberapa titik ketinggian air sudah mencapai dua meter. Bahkan banjir telah menghanyutkan rumah warga.
Selama beberapa pekan terakhir, curah hujan di empat daerah di Tana Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, da Kabupaten Luwu Timur, cukup tinggi. Di Kota Palopo sendiri, keseringan hujan turun pada malam hari.
Luwu Utara
Selain di Luwu, ratusan rumah dan ribuan hektare lahan persawahan dan perkebunan milik petani di Kabupaten Luwu Utara hingga saat ini masih terendam banjir akibat hujan deras yang terus mengguyur daerah hulu Sungai Rongkong.
Beberapa waktu lalu, sejumlah kelurahan dan desa di Kota Palopo dan Kabupaten Luwu Timur juga terendam banjir bandang karena tingginya curah hujan di daerah tersebut.
Jika hujan deras terus mengguyur daerah Padang Sappa, maka ketinggian air ditaksir dapat mencapai 2,5 meter dan akan mengenangi seluruh daerah tersebut. (wd)

Gubernur Bantu Rp 100 Juta Korban Banjir Lutra

Gubernur Bantu Rp 100 Juta Korban Banjir Lutra

Masamba, -Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), M Amin Syam, kembali mengucurkan bantuan sembako senilai Rp 100 juta kepada korban banjir di Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Kamis (21/6).
Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa Sulsel, A Baso Gani mewakili gubernur. Bantuan ini diterima Wakil Bupati Lutra, Arifin Junaidi.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sulsel juga pernah memberikan bantuan serupa kepada warga di tiga kecamatan yang dilanda banjir. Penyerahan bantuan berlangsung di depan pasar Desa Beringin Jaya, Kecamatan Baebunta.
Hingga saat ini, sejumlah desa dan dusun di Kecamatan Baebunta masih terendam banjir. Bahkan, beberapa waktu lalu, tiga desa di kecamatan tersebut sempat terisolasi karena ketinggian air mencapai hingga tiga meter di titik-titik tertentu.
Banjir yang melanda warga di Kecamatan Baebunta ini diakibatkan meluapnya aliran Sungai Rongkong yang merupakan sungai terbesar dan terpanjang di daerah ini. Meluapnya air Sungai Rongkong ini disebabkan tanggul tanah yang dibangun pemerintah senilai Rp 3 miliar bobol.
Selain menggenangi ratusan rumah warga, banjir yang sudah merupakan langganan warga setiap tahunnya ini juga menggenangi ribuan hektare lahan perkebunan dan persawahan warga yang mengakibatkan kerugian hingga miliaran rupiah.
Warga di daerah ini sendiri sangta berharap agar pemerintah tidak hanya rajin memberikan bantuan tetapi lebih pada penanggulangan banjir sehingga mereka kembali dapat bercocok tanam.
Beberapa waktu lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutra bekerja sama dengan Bank Mandiri Cabang Palopo juga menyerahkan bantuan sembako senilai Rp 64juta kepada korban banjir di Desa Lawewe, Beringin Jaya, Lembang-Lembang, dan Mekar Sari Jaya.(wd)

Sampaikan Salam Amin
SEBELUM menyerahkan bantuan kepada korban, Kepala Bekesbang Sulsel A Baso Gani yang turun langsung di tengah genangan air selutut orang dewasa itu menyampaikan salam dari Gubernur Sulsel, Amin Syam, kepada warga yang tertimpa banjir.
“Gubernur kita, Bapak M Amin Syam sangat prihatin dengan musibah banjir yang menimpa warga di Luwu Utara ini. Makanya dia memberikan bantuan dengan harapan melalui bantuan ini dapat meringankan beban penderitaan warga yang tertimpa musibah,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi sambutan penerimaannya menjelaskan kepada masyarakat bahwa maksud kedatangan utusan gubernur ini adalah ingin melihat langsung penderitaan yang dialami warga.
Sejumlah warga yang berada di tempat itu merasa senang dengan adanya bantuan ini. “Tentu kami (warga) sangat senang dengan adanya bantuan seperti karena paling tidak dapat meringankan beban kami,” kata salah seorang warga.

Kontraktor Harus Miliki Tenaga Teknis

Malili, Tribun — Bupati Luwu Timur (Lutim), A Hatta Marakarma, menegaskan kepada para kontraktor yang akan mengerjakan proyek fisik di Lutim Tahun Anggaran 2007 ini harus memiliki tenaga teknis dalam proses pengerjaan proyek.
Hal itu disampaikan Hatta dalam pertemuannya dengan sejumlah kontraktor, Rabu (20/6), di Aula Danau Matano, kantor bupati. “Kontraktor harus punya tenaga teknis di lapangan sehingga pekerjaan yang dihasilkan bisa maksimal,” katanya.
Hatta menuturkan, salah satu penyebab sehingga terjadi beberapa kendala bahkan kasus di lapangan karena perusahaan atau kontraktor tidak memiliki tenaga teknis yang punya kompetensi dalam hal proyek.
“Saya juga ingatkan kepada patra kontraktor bahwa untuk pengerjaan proyek tahun anggaran 2007 ini, tidak ada lagi istilah perpanjangan kontrak bagi yang masa kontraknya sudah habis tanpa alasan yang jelas,” katanya.
Jika suatu proyek habis masa kontraknya namun belum selesai dikerjakan maka pemerintah akan memutuskan kontrak dengan perusahaan tersebut dan mengenakan denda berdasrkan aturan yang ada.
“Kontraktor itu (nakal) juga tidak akan diberi proyek lagi di Lutim,” kata Hatta yang berjanji akan terjun langusng ke lapangan untuk mengejek sejumlah proyek yang dikerjakan. (wd)

HMI Nilai Demo Anti-Tenriadjeng Tidak Etis

 

Jumat, 22-06-2007
HMI Nilai Demo Anti-Tenriadjeng Tidak Etis

Palopo, Tribun — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palopo menyayangkan aksi demonstrasi yang dilakukan sejumlah mahasiswa Kota Palopo di Kejaksaan Tinggi (Sulsel), Makassar, Senin (18/6) lalu.
“HMI sebagai salah satu stakeholder yang ada di Palopo sangat menyayangkan beberapa tindakan dari pendemo yang kami nilai tidak etis,” kata Koordinator Kajian Strategis dan Kebijakan Publik (KSKP) HMI Cabang Palopo, Junaedi Basir, Kamis (21/6).
Beberapa waktu lalu, sejumlah mahasiswa yang dipimpin Rusdy dengan mengatasnamakan Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) Palopo menggelar aksi unjuk rasa di Kejaksaan Tinggi Sulsel. Dalam aksi ini, mahasiswa meminta kejati mengusut sejumlah dugaan korupsi yang terjadi di pemerintahan.
Selain menggelar orasi, mahasiswa juga menginjak-injak foto Wali Kota Palopo, PA Tenriadjeng, dan melempari foto berbingkai dengan ukuran 10 R itu.
“Aksi yang diwarnai dengan pelemparan, mencoret-coreti, menendang hingga menginjak-injak foto Wali Kota Palopo itu sangat tidak etis,” kata Junaedi.
Junaidi menuturkan, jika mengatasnamakan mahasiswa, maka setiap tindakan yang dilakukan seharusnya didasari dan bersandar pada rasionalitas, fakta, objektif, dan bukan malah sebaliknya karena justru akan memberikan efek negatif pada sisi pembelajaran politik dan kedewasaan berdemokrasi bagi masyarakat luas.
“KSKP HMI Cabang Palopo, menyatakan keprihatinan yang sangat dalam atas tindakan yang tidak etis seperti itu,” kata Junaedi sambil menambahkan bahwa pihaknya senantiasa mengecam segala bentuk aksi-aksi yang dinilai melecehkan etika demokrasi. (wd)

LKP-SDM: Studi Banding Anggota DPRD Mubazir

LKP-SDM: Studi Banding Anggota DPRD Mubazir
Dinilai Hanya Pemborosan Anggaran

Malili- Kunjungan kerja 25 anggota DPRD Luwu Timur (Lutim) ke sejumlah daerah di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Gorontalo dinilai hanya pemborosan anggaran. Kunjungan untuk membandingkan lima peraturan daerah yang belum lama ini disahlan terkesan mubazir.
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LKP-SDM) Lutim mengungkapkan, sutdi banding itu telah menguras anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sekitar Rp 433 juta lebih.
“Kami menilai kunjungan anggota DPRD ke beberapa daerah terkesan mubazir. Saya kira cukup dengan mengundang ahli atau pakar yang mempunyai kompetensi untuk membedah dan mengkaji lebih jauh setiap perda yang disahkan,” kata Ketua Bidang Hukum LKP-SDM Lutim, Firman, Kamis (21/6).
Firman menuturkan, berdasarkan data yang diperoleh, studi banding itu telah menguras APBD sekitar Rp 433 juta lebih. Sementara masih banyak agenda dan program pembangunan lainnya di daerah ini yang lebih urgen untuk ditindaklanjuti.
Selama tahun 2006 lalu, DPRD Lutim telah melakukan sedikitnya 5 kali studi banding ke beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan studi banding kali ini merupakan yang kedua kalinya setelah bulan Februari dan Maret lalu.
“Ada kecenderungan setiap ranperda yang diajukan eksekutif, dijadikan bahan dan alasan bagi legislatif di daerah ini untuk melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah, padahal kunjungan tersebut terkesan mubazir dan hanya pemborosan pada APBD,” katanya.
Dibagi Tiga
Kunjungan studi banding anggota DPRD Lutim terbagi dalam tiga kelompok, yakni panitia khusus (pansus) I, pansus II, dan pansus III. Pansus I beranggota 10 orang, pansus II tujuh orang, dan delapan orang di pansus III.
Pansus I yang mengunjungi Padang dan Kutai Barat, Kalimantan Timur, dan telah berangkat sejak 6 Juni lalu. Mereka dijadwalkan kembali ke Lutim, Sabtu (23/6) besok. Di daerah ini, pansus I akan mempelajari perda mengenai rencana tata ruang wilayah.
Anggota pansus II yang berangkat sejak 16 Juni lalu mengunjungi Kabupaten Gunung Kidul di Yogyakarta, Balikpapan, dan Ciamis, Jawa Barat. Pansus ini dijadwalkan kembali ke Lutim 1 Juli mendatang. Mereka mempelajari penerapan perda mengenai rencana tata ruang wilayah pesisir dan laut dan perda mengenai pengelolaan hutan rakyat.
Sedangkan Pansus III berkunjung ke Provinsi Gorontalo, Manado, dan Jakarta dari tanggal 18-29 Juni dengan maksud menggali informasi seputar penerapan perda tentang pokok-pokok pengeloaan keuangan daerah dan perda tentang retribusi jasa ketatausahaan.

studi banding dprd
- Pansus I: Berangkat 6 Juni, mengunjungi Padang dan Kutai Barat, Kalimantan Timur
- Pansus II: Berangkat 16 Juni, mengunjungi Kabupaten Gunung Kidul di Yogyakarta, Balikpapan, Kalimantan Timur, dan Ciamis, Jawa Barat
- Pansus III: Berangkat 18-19 Juni, mengunjungi Provinsi Gorontalo, Manado (Sulawesi Utara), dan Jakarta
(wd)

Judas Yakin Jadi Calon Wali Kota Palopo

Judas Yakin Jadi Calon Wali Kota Palopo

Klaim Didukung Sejumlah Parpol

Palopo, Tribun — Salah seorang kandidat yang disebut-sebut bakal ikut bersaing dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) Wali Kota Palopo, M Judas Amir, yakin bisa menjadi calon wali kota.
Ketua Partai Persatuan Daerah (PPD) Kabupaten Luwu ini mengklaim sejumlah partai politik telah menyatakan dukungan kepadanya dan siap menjadi partai pengusung.
“Saya tidak usah dululah sebutkan partai-partai apa yang mendukung saya. Yang jelas jika dijumlahkan perolehan suara seluruh partai sekitar 19 persen lebih,” kata Judas via telepon selularnya, Jumat (22/6).
Berdasarkan peraturan perundang-undangan, calon wali kota dan wakil wali kota berhak maju pada pilkada jika diusung oleh partai yang memiliki jumlah suara minimal 15 persen dari total suara pada pemilihan umum anggota legislatif.
Saat ini, Judas baru resmi diusung sebagai calon Wali Kota Palopo oleh PPD Kota Palopo. PPD mendudukkan satu legislatornya di DPRD Kota Palopo. Setiap satu kursi di DPRD, dihargai dengan empat persen dari total suara pada pemilu legislatif.
Dengan demikian, Judas dan PPD harus mencari sekitar 11 persen tambahan suara jika ingin maju sebagai calon wali kota.
“Soal pengalangan dukungan itu adalah tugas bersama antara Pak Judas dengan kami (PPD),” kata Ketua DPC PPD Kota Palopo, Boerhanuddin LM.
Boerhanuddin menuturkan, salah satu partai yang hendak didekat pihaknya yaitu PBSD yang mendudukkan satu legislator di DPRD dan sejumlah partai gurem atau non parlemen.
Jumlah parpol non-parlemen di Kota Palopo sebanyak 11 parpol. Jumlah perolehan suara keseluruhan partai gurem jika dijumlahkan sekitar 20 persen lebih.
“Saya rasa, peluang kami (Judas-PPD) sangat besar, tinggal bagaimana kami menggalang dukungan dari partai non-parlemen,” kata Boerhanuddin saat ditemui di ruang Komisi I DPRD Palopo.
Ditanya mengenai calon wakil yang akan dipaketkan dengannya jika jadi maju sebagai calon wali kota, Judas mengatakan, pihaknya belum memikirkan hal tersebut. “Soal wakil itu urusan nanti setelah kita memenuhi syarat,” katanya. (wd)

muda-mudi

para remaja dipalopo saat ini cukup memprihatinkan meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit, mereka dalam hal bergaul udah tidak melihat norma-norma agama, menurut mereka bergaul yang ala barat sangat modern katanya,.,…..! mereka uda didepan umum saling berpelukan, berciuman, dll. saya sebagai orang palopo sangat prihatin terhadap perkembangan remaja palopo yang akan membawa bencana bagi kota palopo itu sendiri pada khususnya dan indonesia pada umumnya.