MENCETAK MANAGER

Sebuah perusahaan mitra Experd, pada suatu waktu, menyadari situasi kritis yang terjadi di perusahaan, yaitu kenyataan bahwa mereka mencetak banyak laba, mengembangkan bisnis dan menjadi pemain terpenting di industrinya, tetapi tidak punya banyak calon penerus, baik di tingkat direksi sampai supervisor. “Pelatihan manajemen tidak pernah terlupakan. Kami juga sudah menjalankan manajemen kinerja dengan baik, tetapi mengapa kita tidak kunjung berhasil meng-‘kloning’ diri kita-kita ini? Berkaca pada pengalaman saya, kami juga dulu tidak dicekoki dengan pengajaran pengajaran istimewa selagi muda?”

Apapun argumentasinya, kita perlu segera menyadari bahwa bila di organisasi kita tidak terdapat cukup banyak suksesor, cepat atau lambat perusahaan akan bermasalah. Pada kenyataannya kita juga melihat bahwa semakin tidak banyaknya calon-calon manajer atau pemimpin, maka organisasi semakin tidak diminati, karena calon karyawan maupun karyawan yang sudah bekerja tahu dan sadar tentang tidak adanya prinsip suksesi yang jelas.

Nampaknya, argumentasi “Perusahaan kita bukan universitas tempat belajar”, sudah tidak bisa dijalankan pada perusahaan yang ingin menjaga kontinuitas bisnisnya. Bukti menunjukkan bahwa kualitas manusia beserta prinsip dan spirit perusahaan, tidak bisa “dibeli” atau “ditempel” begitu saja dari luar. Mungkin ini juga sebabnya penemu Mc Donald, Ray Kroc, mengatakan: “If we are going to go anywhere, we’ve got to have talent. And, I’m going to put my money in talent”, ketika membangun “hamburger university”-nya. Mc Donald sejak awal berdirinya sudah menyatakan bahwa mereka ingin menjadi “talent developer” terbaik, agar mempunyai “manpower” yang sepenuhnya berkomitmen ke QSC&V (Quality, Service, Cleanliness dan Value).

Turunkan Prinsip sampai Mendarah Daging

Toyota yang sangat terkenal berhasil mencetak manajer yang mumpuni sesuai kebutuhan, sangat percaya bahwa prinsip yang dipegang dalam menjalankan tugas jauh lebih penting daripada segala macam “tools” manajemen dan proses. Prinsip di sini, tidak sebatas yang berbau teknis namun juga dalam proses mencetak suksesor, salah satunya prinsip bahwa coaching perlu dilakukan dengan penuh keyakinan dan obsesi yang kuat. Mungkin ini sebabnya mengapa perusahaan yang “tidak percaya” pada proses “coaching” akan sulit menerapkan teknik-teknik “coaching” walaupun teknik ini diajarkan dalam pelatihan, bila pada prinsipnya, keyakinan manajemen memang tidak di situ. Dengan demikian, sebelum mempelajari teknik, prinsiplah yang terlebih dulu harus dibangun dan diyakini, kemudian perlu turun temurun diwariskan dalam organisasi yang kuat, karena pengambilan keputusan dan pemecahan masalah akan didasarkan pada “benang merah” yang sudah menjadi landasan keberhasilan perusahaan.

Tajamnya Penginderaan menghasilkan “sense of precision”

Kita tahu bahwa strategi itu penting, tetapi strategi yang tepat hanya bisa dilakukan berdasarkan fakta yang tepat. Seringkali, di dunia yang serba instan begini, kita berharap manajer muda kita yang cemerlang secara instan akan mampu membuat strategi yang cemerlang. Hal inilah yang sering membuat kita frustrasi karena kita lupa bahwa hal yang sangat mendasar, yaitu kemampuan dan cara individu memperoleh fakta, terlewatkan. Bagaimana seseorang menemukan kejanggalan suatu proses, bagaimana ia marasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, bagaimana ia mencium adanya potensi di situasi tertentu, bagaimana ia melihat “talenta” pada bawahannya , dan juga bagaimana ia meraba “timing” dari suatu tindakan tertentu adalah hal hal penting yang perlu dikuasai, bila ingin menjadi pengambil keputusan yang handal. Saya teringat kata-kata ayah saya yang senang sekali melakukan kontrol langsung dalam menjalankan tugasnya sebagai GM:” There’s no substitute for direct observation.” Dengan keyakinan ini, calon pemimpin bisa didorong dan didampingi untuk banyak-banyak turun ke lapangan, sehingga ia tidak saja pandai menganalisa mengapa gejala tertentu “sudah” terjadi, tetapi justru juga akan mendapatkan nilai tambah lain bila menyaksikan sendiri kesalahan, kegagalan ataupun kesuksesan terjadi. Pendekatan melalui laporan, interviu, data, dan statistik nampaknya memang menghasilkan sesuatu yang berbeda dan memberi dampak yang berbeda terhadap kompetensi seorang pemimpin. Bahkan pendekatan yang hanya mengandalkan laporan bisa dikatakan adalah sumber kegagalan tercetaknya pemimpin. Melalui observasi dan “merasakan langsung”, seorang calon pemimpin bisa mengembangkan “sense of precision”-nya yang senantiasa akan diperlukannya dalam memimpin tim.

Obsesi untuk “menjadikan” pemimpin

Kita pasti sudah menyadari bahwa hampir semua organisasi berusaha meng-”karbit” karyawan-karyawan yang cemerlang untuk dijadikan calon pimpinan perusahaan, misalnya.melalui program ‘management trainee’. Namun demikian, masih saja banyak keluhan mengenai kematangan dan kesiapan para calon ini untuk menjadi pemimpin. Pertanyaannya, apakah kita sudah secara optimal meluangkan waktu untuk melatih mereka secara keseluruhan, mencakup hati, tangan, kepala dan cara komunikasinya? Kita sadar bahwa pemimpin yang kita idamkan adalah pemimpin yang mampu membuat terobosan dan perbaikan, namun sudahkan kesempatan latihannya dirancang sedemikian rupa sampai ia sempat bereksperimen di lapangan?

Bisa jadi, selain kurangnya kesempatan bereksperimen, disadari atau tidak, banyak organisasi yang tidak subur menumbuhkan manajer baru mempunyai kebiasaan “membabat” orang yang berbuat salah. “Ya, pastilah…kesalahan yang dibuat itu merugikan perusahaan bermilyar-milyar, yang tidak bisa dibayar dengan seumur hidup gajinya”, demikian komentar salah seorang pimpinan perusahaan terhadap kesalahan anak buahnya. Mungkin ada saja pemimpin yang bisa tumbuh di lingkungan yang tidak memperhitungkan pengembangan “self esteem” para calonnya, tetapi jumlah hasilnya tentu lebih sedikit daripada situasi yang memang dengan “sengaja” dan serius menyediakan kesempatan bagi para calon pemimpin ini untuk bereksperimen. Perubahan memang sering tidak bisa di coba-coba, padahal seorang yang ‘belajar’ memang harus banyak memperhatikan dan melakukan “testing’ bahkan berbuat kesalahan. . Satu-satunya jalan agar seorang calon pemimpin bisa melalui proses belajar yang efektif adalah memberinya tugas yang bertahap dan sudah diperhitungkan resikonya bila kesalahan terjadi. Satu hal yang juga tidak pernah bisa terlewatkan adalah pembahasan mendalam antara atasan atau ’coach’ dengan ”trainee” tentang tindakan, kesuksesan dan kegagalannya. Pemimpin yang tumbuh sebagai hasil dari pengajaran memerlukan proses coaching, bukan “fixing”, perlu di “enabled” bukan di “disabled”.

MENCETAK MANAJER

Sebuah perusahaan mitra Experd, pada suatu waktu, menyadari situasi kritis yang terjadi di perusahaan, yaitu kenyataan bahwa mereka mencetak banyak laba, mengembangkan bisnis dan menjadi pemain terpenting di industrinya, tetapi tidak punya banyak calon penerus, baik di tingkat direksi sampai supervisor. “Pelatihan manajemen tidak pernah terlupakan. Kami juga sudah menjalankan manajemen kinerja dengan baik, tetapi mengapa kita tidak kunjung berhasil meng-‘kloning’ diri kita-kita ini? Berkaca pada pengalaman saya, kami juga dulu tidak dicekoki dengan pengajaran pengajaran istimewa selagi muda?”

Apapun argumentasinya, kita perlu segera menyadari bahwa bila di organisasi kita tidak terdapat cukup banyak suksesor, cepat atau lambat perusahaan akan bermasalah. Pada kenyataannya kita juga melihat bahwa semakin tidak banyaknya calon-calon manajer atau pemimpin, maka organisasi semakin tidak diminati, karena calon karyawan maupun karyawan yang sudah bekerja tahu dan sadar tentang tidak adanya prinsip suksesi yang jelas.

Nampaknya, argumentasi “Perusahaan kita bukan universitas tempat belajar”, sudah tidak bisa dijalankan pada perusahaan yang ingin menjaga kontinuitas bisnisnya. Bukti menunjukkan bahwa kualitas manusia beserta prinsip dan spirit perusahaan, tidak bisa “dibeli” atau “ditempel” begitu saja dari luar. Mungkin ini juga sebabnya penemu Mc Donald, Ray Kroc, mengatakan: “If we are going to go anywhere, we’ve got to have talent. And, I’m going to put my money in talent”, ketika membangun “hamburger university”-nya. Mc Donald sejak awal berdirinya sudah menyatakan bahwa mereka ingin menjadi “talent developer” terbaik, agar mempunyai “manpower” yang sepenuhnya berkomitmen ke QSC&V (Quality, Service, Cleanliness dan Value).

Turunkan Prinsip sampai Mendarah Daging

Toyota yang sangat terkenal berhasil mencetak manajer yang mumpuni sesuai kebutuhan, sangat percaya bahwa prinsip yang dipegang dalam menjalankan tugas jauh lebih penting daripada segala macam “tools” manajemen dan proses. Prinsip di sini, tidak sebatas yang berbau teknis namun juga dalam proses mencetak suksesor, salah satunya prinsip bahwa coaching perlu dilakukan dengan penuh keyakinan dan obsesi yang kuat. Mungkin ini sebabnya mengapa perusahaan yang “tidak percaya” pada proses “coaching” akan sulit menerapkan teknik-teknik “coaching” walaupun teknik ini diajarkan dalam pelatihan, bila pada prinsipnya, keyakinan manajemen memang tidak di situ. Dengan demikian, sebelum mempelajari teknik, prinsiplah yang terlebih dulu harus dibangun dan diyakini, kemudian perlu turun temurun diwariskan dalam organisasi yang kuat, karena pengambilan keputusan dan pemecahan masalah akan didasarkan pada “benang merah” yang sudah menjadi landasan keberhasilan perusahaan.

Tajamnya Penginderaan menghasilkan “sense of precision”

Kita tahu bahwa strategi itu penting, tetapi strategi yang tepat hanya bisa dilakukan berdasarkan fakta yang tepat. Seringkali, di dunia yang serba instan begini, kita berharap manajer muda kita yang cemerlang secara instan akan mampu membuat strategi yang cemerlang. Hal inilah yang sering membuat kita frustrasi karena kita lupa bahwa hal yang sangat mendasar, yaitu kemampuan dan cara individu memperoleh fakta, terlewatkan. Bagaimana seseorang menemukan kejanggalan suatu proses, bagaimana ia marasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, bagaimana ia mencium adanya potensi di situasi tertentu, bagaimana ia melihat “talenta” pada bawahannya , dan juga bagaimana ia meraba “timing” dari suatu tindakan tertentu adalah hal hal penting yang perlu dikuasai, bila ingin menjadi pengambil keputusan yang handal. Saya teringat kata-kata ayah saya yang senang sekali melakukan kontrol langsung dalam menjalankan tugasnya sebagai GM:” There’s no substitute for direct observation.” Dengan keyakinan ini, calon pemimpin bisa didorong dan didampingi untuk banyak-banyak turun ke lapangan, sehingga ia tidak saja pandai menganalisa mengapa gejala tertentu “sudah” terjadi, tetapi justru juga akan mendapatkan nilai tambah lain bila menyaksikan sendiri kesalahan, kegagalan ataupun kesuksesan terjadi. Pendekatan melalui laporan, interviu, data, dan statistik nampaknya memang menghasilkan sesuatu yang berbeda dan memberi dampak yang berbeda terhadap kompetensi seorang pemimpin. Bahkan pendekatan yang hanya mengandalkan laporan bisa dikatakan adalah sumber kegagalan tercetaknya pemimpin. Melalui observasi dan “merasakan langsung”, seorang calon pemimpin bisa mengembangkan “sense of precision”-nya yang senantiasa akan diperlukannya dalam memimpin tim.

Obsesi untuk “menjadikan” pemimpin

Kita pasti sudah menyadari bahwa hampir semua organisasi berusaha meng-”karbit” karyawan-karyawan yang cemerlang untuk dijadikan calon pimpinan perusahaan, misalnya.melalui program ‘management trainee’. Namun demikian, masih saja banyak keluhan mengenai kematangan dan kesiapan para calon ini untuk menjadi pemimpin. Pertanyaannya, apakah kita sudah secara optimal meluangkan waktu untuk melatih mereka secara keseluruhan, mencakup hati, tangan, kepala dan cara komunikasinya? Kita sadar bahwa pemimpin yang kita idamkan adalah pemimpin yang mampu membuat terobosan dan perbaikan, namun sudahkan kesempatan latihannya dirancang sedemikian rupa sampai ia sempat bereksperimen di lapangan?

Bisa jadi, selain kurangnya kesempatan bereksperimen, disadari atau tidak, banyak organisasi yang tidak subur menumbuhkan manajer baru mempunyai kebiasaan “membabat” orang yang berbuat salah. “Ya, pastilah…kesalahan yang dibuat itu merugikan perusahaan bermilyar-milyar, yang tidak bisa dibayar dengan seumur hidup gajinya”, demikian komentar salah seorang pimpinan perusahaan terhadap kesalahan anak buahnya. Mungkin ada saja pemimpin yang bisa tumbuh di lingkungan yang tidak memperhitungkan pengembangan “self esteem” para calonnya, tetapi jumlah hasilnya tentu lebih sedikit daripada situasi yang memang dengan “sengaja” dan serius menyediakan kesempatan bagi para calon pemimpin ini untuk bereksperimen. Perubahan memang sering tidak bisa di coba-coba, padahal seorang yang ‘belajar’ memang harus banyak memperhatikan dan melakukan “testing’ bahkan berbuat kesalahan. . Satu-satunya jalan agar seorang calon pemimpin bisa melalui proses belajar yang efektif adalah memberinya tugas yang bertahap dan sudah diperhitungkan resikonya bila kesalahan terjadi. Satu hal yang juga tidak pernah bisa terlewatkan adalah pembahasan mendalam antara atasan atau ’coach’ dengan ”trainee” tentang tindakan, kesuksesan dan kegagalannya. Pemimpin yang tumbuh sebagai hasil dari pengajaran memerlukan proses coaching, bukan “fixing”, perlu di “enabled” bukan di “disabled”.

BUGAR KOGNITIF

Bila kita mencari kesamaan antara Alan Greenspan, Warren Buffett, Sumner Redstone, Kartini Muljadi dan Emil Salim, maka dengan mudah kita akan mengatakan bahwa kelima tokoh ini sama-sama berusia 70-an. Kesamaan lain yang sesungguhnya paling menarik adalah bahwa ke semua tokoh ini masih berada pada puncak kekuatan intelektual di usia yang tidak bisa dikatakan senja lagi ini. Berada bersama dengan Emil Salim, kita yang masih muda-muda akan merasa kikuk karena ketajaman intelektual beliau sangat terlihat ketika membahas, mengingat-ingat, dan menerangkan suatu isu. Ini menandakan bahwa beliau masih sangat rajin belajar, meng-”update” pengetahuan dan beradaptasi. Situasi ini benar-benar bisa mempertanyakan teori tentang deteriorisasi kecerdasan yang biasanya sudah mulai terjadi mulai usia 45 tahun manusia normal.

Di situasi lain, kita banyak menyaksikan individu yang seolah terlena dengan deteriorisasi intelektualnya dan membiarkan dirinya terjebak pada ”kemanjaan” intelektual, misalnya, dalam diskusi-diskusi banyak individu yang tidak berusaha menyerap apa yang dikatakan orang lain, seolah-olah apa yang dibicarakan dan terjadi di luar dirinya adalah pengalaman yang tidak bermanfaat bagi kegiatan berpikirnya. Orang seperti ini tampil sebagai orang yang keras kepala, malas berpikir, dangkal dan tidak progresif. Bayangkan bagaimana jadinya kalau hal ini terjadi pada orang-orang yang produktif dan relatif masih muda? Dunia ini memang penuh masalah dan kesulitan, untuk itulah kita perlu melatih kegiatan pikir secara terus-menerus, bagaikan cara berlatih pelari maraton dalam menjaga kebugarannya.

Kebugaran Kognitif Tanggung Jawab Individu

Hal yang umum terjadi pada kita adalah bahwa kita tidak selamanya menyadari bahwa bukan saja fisik yang harus dijaga kebugarannya, tetapi daya pikir dan emosi pun perlu dipelihara dan ditumbuhkan. Tidak seperti banyak hal yang bisa kita serahkan pada asisten, pembantu rumah tangga atau pada bawahan, mengembangkan, menumbuhkan daya pikir dan mejaga kebugaran mental perlu kita upayakan sendiri, agar otak tidak kaku dan mampu menanggung beban yang berat.

Banyak situasi di mana individu tidak menyadari bahwa ia sedang tidak membugarkan daya pikirnya. Individu yang dalam pernyataannya banyak menggunakan kata ”selalu”, ”sering” dan mudah men-”cap” orang dengan kualitas tertentu, bisa dikatakan sedang menggunakan pendekatan”All or None”, alias ekstrim, mengeneralisasikan, menyimpulkan dan meramalkan terlalu cepat dan sering tidak menyadari bahwa ia menggunakan pendekatan yang salah. Tak jarang pula kita menemukan individu yang tidak berupaya mengungkapkan realita dengan tepat, seperti membesar-besarkan angka, tidak menghafal nama orang lain dengan tepat, sampai tidak memelihara upaya untuk bersikap obyektif.

Kita juga mudah menemukan paradigma dan ungkapan seperti: ”Saya sudah tua”, ”Otak sudah tidak kuat”, ”Telmi (baca: telat mikir)”, seolah-olah adalah pernyataan ”kalah” pada situasi dan keinginan mengatakan bahwa ”otak saya tidak bugar lagi”. Padahal, pikiran positif dan kepedean bahwa kita kuat sangat berpengaruh pada kebugaran pikiran kita, sementara para ahlipun berpendapat bahwa kebugaran mental mempengaruhi kebugaran fisik pula. Ahli sejarah berpendapat bahwa usia Winston Churchill sampai 90 tahun bukan berkorelasi dengan kebiasaan menghisap cerutunya , melainkan kegemarannya pada informasi.

Pentingnya Hubungan Interpersonal bagi Kebugaran Mental

Kebugaran mental sebenarnya berasal dari kapasitas dan kebebasan individu untuk mengelola masalah, emosi, situasi sehari-hari dengan daya pikir yang benar. Kemampuan menggunakan daya pikir yang benar ini akan berpengaruh pada kebahagiaan seseorang, sehingga individu akan merasa lebih nyaman, kuat, bebas dan berani menghadapi realita. Hanya dalam kondisi nyamanlah seseorang bisa fokus pada keinginan dan baru bisa memanfaatkan potensi kecerdasannya alias IQ-nya untuk pemecahan masalah.

Tidak seperti kebugaran fisik yang sering membutuhkan acara dan alat-alat khusus, latihan kebugaran mental, untungnya, bisa kita lakukan setiap saat, dimana saja dan dalam situasi apapun. Hal yang mungkin kita tidak sadari adalah bahwa interaksi dan hubungan interpersonal kita berfungsi memperkuat ’social support’ yang merupakan landasan untuk menjaga kebugaran pikiran. Sepintar dan sehebat apapun kita, bila tidak memiliki hubungan interpersonal yang baik, bisa-bisa kita ’end-up’ men jadi profesor ling-lung. Karenanya, kita bisa membugarkan pikiran kita dengan sengaja menumbuhkembangkan hubungan baik, misalnya melakukan silaturahmi, menolong, aktif berperan dalam organisasi, bercanda dan mengembangkan ”sense of humor”, sehingga kita bisa ”stay positive”, merasa ”kaya dan kuat” menahan beban dan menghadapi perubahan.

Lakukan Akrobat Mental dengan Sengaja!

Kegiatan mengeksplorasi dalam pikiran sering ditangkap salah oleh sebagian orang, seolah-olah mengeksplorasi memerlukan waktu khusus dan serius. Padahal, kita bisa melakukan eksplorasi dalam setiap kegiatan kita, asalkan kita dengan sengaja menangkap, menyerap, memotret situasi dan menjaganya untuk berada dalam perspektif yang obyektif.

Di samping sudoku, ”puzzle” dan teka-teki silang yang kita kenal sebagai media ”sport otak” yang baik, kita juga bisa menjaga ”ketajaman” otak dengan meningkatkan rasa ingin tahu dan memberi variasi rangsangan otak. Kegiatan seperti mematikan telepon, TV, komputer dan melakukan ”walk about” di sekeliling kita bisa memunculkan ide cemerlang. Kita pun bisa membuat eksperimen-eksperimen kecil sehingga mental kita mengalami stres yang kita sengaja. Perubahan beresiko yang dirancang dengan sengaja dan dimonitor dengan cermat, merupakan ”sport mental dan jantung” yang baik. Belajar hal baru, dilakukan kakak saya yang 3 tahun lalu genap berusia 65 tahun, dengan memulai tertatih-tatih belajar bahasa Spanyol dari nol. Sekarang ia sudah menikmati liburannya di Spanyol, terutama karena bisa mengobrol dengan penduduk di kampung-kampung dan menemukan hal-hal mengejutkan yang tidak ada di buku-buku.

Kita lihat, kebugaran kognitif ternyata bisa mempengaruhi setiap aspek kepribadian kita baik emosi maupun fisik. Bisa kita bayangkan, bila manusia Indonesia yang mendekati 240 juta jiwa ini mengembangkan kebugaran kognitif. Bukankah kita bisa menghindari kelesuan, kemalasan, dan kebodohan tanpa ongkos yang besar?

(Ditayangkan di KOMPAS, 5 April 2008)

GO GREEN

Sebuah perusahaan telekomunikasi mengundang Experd untuk melaksanakan brief kepada para “frontliner” yang perlu dibekali ketrampilan menghadapi pelanggan, saat pelanggan menuntut pemahaman mengenai “green policy” yang baru diterapkan perusahaan. Misalnya saja, fakta bahwa semua onderdil produk mereka bisa di daur ulang dan pengenalan kepada pelanggan mengenai berbagai program ‘Green’-nya. Perusahaan ini tentunya termasuk pioneer dalam “green policy”, karena di Indonesia, pemerintah memang belum mengeluarkan peraturan konkrit apapun yang berkenaan dengan pelestarian lingkungan.

Upaya konservasi energi tentunya suatu saat akan menjadi bukan saja fitur bisnis dan “compliance “ ke aturan pemerintah, namun mulai nge-trend dan bahkan menjadi kebutuhan setiap perusahaan yang maju. Penggunaan bahan “daur ulang”, makan makanan organik, kegiatan “bike to work”, kesemuanya ini adalah antara lain upaya individu untuk mengejawantahkan gaya hidup baru yang lebih ‘hijau’.

Universitas Indonesia pun tidak tanggung-tanggung dalam “going green”. Di samping memantapkan keberadaan hutan-hutan mini di lingkungan kampus, jalur sepeda sudah hampir 100 % jadi dan di kampus pun sudah tersedia 1000 sepeda sumbangan pemerintah swedia untuk para mahasiswa yang dilarang berkendaraan dan parkir motor atau mobil di kampus. Teman saya berkomentar,”Wah bisa usaha parkir dong, di luar kampus.” Ia menyoroti keadaan di mana mahasiswa yang tidak terbiasa naik kereta, diperkirakan akan tetap membawa kendaraan sampai ke dekat kampus. Wah, ini artinya sikap hidup ”going green” sulit untuk diterapkan secara total. Bahkan, di negara-negara maju dengan rakyat yang individunya sudah berpikiran modern, ada hasil penelitian yang membuktikan bahwa individu yang sudah hidup ”hijau” di rumahnya tidak menjamin perilaku yang sama di kantor atau mengindahkan himbauan di hotel untuk menggantung kembali handuk yang dirasa tidak perlu dicuci. Bagaimana dengan bangsa kita untuk alih-alih “going green”, sementara es batu yang dibuat dari sungai kali ciliwung masih diminum tenang-tenang, pemanis buatan yang tidak terjamin mutunya masih marak dikonsumsi, begitu juga penggunaan zat warna untuk tekstil dalam makanan?

Gaya hidup ”Green” perlu Tindakan Komunal.

Saya ingat teman anak saya, yang berobsesi untuk menjual “green living”, di tahun 90-an, secara “kepagian”. Ia pun menerbitkan majalah gratis AIKON dengan cetakan di atas kertas daur ulang, yang mahal harganya. Ia juga melakukan gerakan pemilahan sampah di daerah Kemang yang tidak berbuah perubahan sikap sampai saat ini. Ujung-ujungnya dia tidak kuat mendanai semua “kemewahan” berpikirnya yang soliter, sendirian, padahal idealis dan penting. Kita-kita yang ada di dekat individu seperti ini sering kagum menyaksikannya, tetapi tidak bergerak mengikuti tindakannya.

Mengapa teman kita ini tidak berhasil? Alasannya banyak. Banyak orang yang tidak “walk the talk”, kuat berbicara tetapi tidak kuat bertindak. Banyak pula yang sangat ingin melakukannya, tetapi tidak kuat menahan “hambatan sosial”, ejekan teman, wajah bertanya-tanya, anggapan aneh dan kesulitan berubah yang menyebabkan hati kecut untuk meneruskannya. Di samping itu, yang lebih parah lagi adalah saat kita tidak mampu melakukannya karena tidak ada dana. Bisakah menanam padi tanpa pupuk buatan? Bisakah hidup tanpa kantong plastik? Bisakah menjual minuman sehat sekaligus kompetitif? Nampak jelas bahwa untuk benar benar ”going green” perlu ada ”power” yang kuat untuk merubah kebiasaan-kebiasaan. Otoritaslah yang mampu melakukan hal ini. Mungkin kita tidak usah mengharapkan otoritas yang super power seperti pemerintah, tetapi, orang tua, guru, kepala sekolah, RT, RW, lurah dan yang paling penting, pimpinan perusahaan dan para manajer-lah yang sebenarnya memegang kekuatan ”Reward & Punishment” yang jelas.

’Go Green’ Secara Bertahap

Di dalam toilet biasanya tertulis:”Jangan buang tissue ke dalam toilet”. Namun, di sebuah kantor, saya melihat tulisan yang berbeda:”Kesehatan Anda banyak bersumber di tangan Anda. Cucilah tangan Anda bersih-bersih. Gunakan tissue seperlunya”. Rupanya “campaign” di kantor ini dimulai dari hidup bersih, sehat, baru kemudian diikuti dengan keramahan lingkungan. Kita pun bisa menanamkan kesadaran akan energi tanpa langsung memerintahkan untuk mematikan lampu, komputer dan alat listrik, tetapi dengan mengajak bawahan dan para karyawan di bawah pengaruh kita untuk menghargai energi, misalnya mengkaitkannya dengan kebugaran fisik, pembakaran kalori dan kesehatan jiwa maupun raga.

Pemahaman mengenai konsumsi enerji secara bijaksana memang perlu dimulai dari lingkungan yang paling dini dan kecil, yaitu dari rumah dan sekolah. Tanpa pembahasan dan penyadaran akan manfaat dan dampak konsumsi bahan bakar, kita bisa menjadi masyarakat yang buta enerji. Salah satu contoh kecil, kita makin sibuknya menggunakan tissue dan piring styrofoam, karena ingin “praktis”, tanpa sadar bahwa lingkungan tambah menderita, badan bertambah malas dan tidak sehat. Gaya hidup “going green” pun jadi terlalu sulit dijangkau secara langsung. Jika kita mau sedikit memperhatikan hal di luar diri kita, kita bisa lihat bahwa kita banyak mengabaikan hal-hal di sekitar diri kita yang esensial tetapi tidak pernah dikelola secara serius, seperti air, angin, tanah, udara, dan kesehatan kita. Tanaman dan binatang sebenarnya adalah indikator yang baik tentang ketidakpedulian kita terhadap unsur-unsur alam tadi. Bila tanaman dan binatang saja tidak bisa tumbuh segar, bagaimana dengan kesehatan paru paru, ginjal, darah kita dan anak-anak kita?

Pikirkan Sejenak, Sebelum Bertindak

Tentu saja, kita tidak bisa berhenti total menggunakan plastik. Bahkan perusahaan seperti IKEA yang sangat percaya pada lingkungan tetap menggunakan kantong plastik. Hanya saja, kesadaran ditingkatkan dengan keharusan membeli kantong plastik senilai 500 rupiah, menjual tas blacu yang bisa dicuci, sehingga konsumsi tidak sembarangan dan dipikirkan sejenak. Bila kita stop berpikir sejenak sebelum menggunakan lift untuk pergi ke satu lantai diatas, mungkin kita akan memutuskan untuk menggunakan tangga saja, demi kebugaran dan penghematan enerji. Kita pun akan lebih bertanggung jawab dan lebih peduli sampah, bila sebelum membuang sampah, kita stop diri sedetik dan berpikir kemana sampah ini akan pergi. Hidup penuh kepedulian, akan membawa kita ke hidup yang lebih bermakna, dan dengan sendirinya memungkinkan kita lebih menikmati hidup yang memang sudah dan masih indah ini.

(Ditayangkan di KOMPAS, 12 April 2008)