Keluarga besar tokoh kharismatik asal Tana Luwu, Qahhar Mudzakkar, merasa berang dan merasa dilecehkan oleh Bupati Luwu, Basmin Mattayang. Basmin dinilai telah mengeluarkan statemen yang dapat memicu konflik di daerah ini.
“Seharusnya sebagai seorang pejabat negara, Pak Basmin tidak seharusnya mengeluarkan pernyataan yang justru dapat menimbulkan konflik,” kata Andi Muzakkar, putra Qahhar Mudzakkar, saat ditemui di salah satu posko Tim Pejuang Azis-Mubyl di Palopo, Minggu (1/7).
Pernyataan Andi Cakka’, sapaan akrab A Muzakkar, ini dikeluarkan menyusul pernyataan Basmin yang mengimbau agar masyarakat tidak memilih salah satu calon kandidat gubernur Sulsel karena calon tersebut putra mantan pemberontak di negeri ini.
Pernyataan Basmin itu dikeluarkan saat meresmikan Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Desa Tanjung, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu, Kamis (28/6) lalu.
“Saat itu (peresmian ponpes) Basmin mengatakan kepada masyarakat bahwa jangan pilih pemimpin yang Bapaknya pemberontak karena pasti anaknya juga pemberontak,” kata Dr Anton Yahya yang juga tersingung dengan ucapan Basmin tersebut.
Pernyataan Basmin itu disinyalir ditujukan kepada salah satu kandidat gubernur, Abdul Azis Qahhar Mudzakkar yang merupakan putra dari Qahhar. Azis bakal maju di Pilkada Sulsel berpasangan dengan Mubyl Handaling.
Ketegasan Status
Anton yang merupakan putra Bung Yahyu, Komandan Momok Merah, bagian dari DI/TII menuturkan, pernyataan Basmin ini dinilai sangat menyakitkan bagi keluarga besar Qahhar Mudzakkar dan beberapa tokoh pejuang asal Tana Luwu lainnya.
“Seolah-olah kami ini masih dicap sebagai pemberontak padahal negara sudah mengakui kami. Hal ini terbukti dengan masuknya sejumlah keluarga besar Qahhar Mudzakkar dalam sistem pemerintahan dan legislatif,” kata Anton.
Anton yang juga mantan anggota TNI ini mengaku akan menyurat ke Pangdam VII Wirabuana dan meminta ketegasan dari Pangdam mengenai status mereka sebagai Warga Negera Indonesia (WNI).
“Kami akan meminta kejelasan mengenai status kami, jika memang kami masih dianggap pemberontak maka kami akan melakukan aksi. Terlanjur dicap sebagai pemberontak yah lebih baik jadi pemberontak sekalian,” tegas Anton.
Basmin yang coba dihubungi tidak berhasil diperoleh konfirmasinya. Telepon selularnya berkali-kali dihubungi, namun tidak diangkat hingga berita ini diturunkan.

Tokoh Kontroversial
Qahhar Mudzakkar merupakan tokoh kontroversial asal Tana Luwu. Sebagian warga menganggapnya sebagai pejuang dan sebagian lagi menganggapnya pemberontak Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) hingga Februari 1965.
Oleh pemerintah, Qahhar dicap sebagai pemberontak karena saat pemerintah menugaskan Qahhar Mudzakkar yang saat itu berpangkat letnan kolonel (letkol) mengembalikan anggota Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) ke masyarakat.
Namun Qahhar dinilai tidak melaksanakan tugasnya, bahkan menuntut agar KGSS dijadikan Brigade Hasanuddin yang berada di bawah pimpinannya. Namun pemerintah menolak hal ini, sehingga Qahhar bersama anggota KGSS melarikan diri ke hutan dan dicap sebagai pemberontak dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Jawa Barat. (wd)