DALAM sepekan terakhir, rakyat Inggris mengalami dua hal besar dalam kehidupan mereka. Pertama, pemimpin mereka mengalami pergantian dari Tony Blair ke Gordon Brown sebagai perdana menteri (PM).
Kedua, berselang sehari setelah serah terima jabatan itu, teror bom menyeruak di sejumlah tempat di negara yang bersahabat “kental” dengan Amerika Serikat (AS) –yang pernah mengalami teror bom serupa.
Praktis, kehidupan “adem-ayem” masyarakat Inggris langsung berubah menjadi kekhawatiran akan ancaman bom yang bisa saja meledak setiap saat. Pemerintahan Brown pun langsung menaikkan tingkat kewaspadaan terorisme ke posisi puncak, “kritis”.
Aparat keamanan langsung menggelar sejumlah penggeledahan dan penangkapan- penangkapan. Hasilnya, hingga hari Selasa (3/7) kemarin, setidaknya delapan orang telah ditahan dan dinyatakan memiliki keterkaitan dengan upaya peledakan bom.
Bahkan, seorang tersangka yang ditangkap kemarin diringkus di Bandara Brisbane, Australia, jarak yang sangat jauh dari daratan Inggris.
Identifikasi awal menyebutkan, pria berusia 27 tahun ini juga seorang dokter sehingga menambah daftar panjang profesi mulia itu di deretan pelaku bom Inggris menjadi tiga orang dari delapan yang tertangkap.
Perkembangan lainnya, polisi juga meledakkan sebuah paket bom yang ditemukan Hammersmith. Menurut jurubicara kepolisian London, paket yang diledakkan itu bukanlah kendaraan.
Sumber keamanan Inggris mengatakan, sangat dini untuk memastikan bahwa semua orang yang ditahan itu adalah orang asing. “Itu masih menjadi wilayah penyelidikan,” katanya.
Upaya-upaya serangan ini menjadi ujian berat bagi Gordon. Pada tahun 2005 silam, Inggris menjadi negara pertama yang dihantam bom bunuh diri yang dilakukan kelompok Islam radikal dan sejak saat itu sejumlah rencana bom berhasil digagalkan.
Blair dikenal sebagai seorang yang sangat agresif dalam hal keamanan. Dan kebijakan luar negerinya sangat kuat mendukung AS di Afganistan dan Irak. Bom bawah tanah yang meledak di jaringan transportasi London, dua tahun lalu, menewaskan 52 warga.
Video yang disiarkan oleh organisasi teror tersebut mengatakan bahwa Inggris dihukum atas kebijakan Blair.
Sementara itu, Brown, sang PM yang baru, menganggapi serangan kali ini dengan langsung menunjuk kelompok Al Qaeda sebagai pihak yang berada di belakangnya.
“Terlepas dari Irak, terlepas dari Afganistan, kami menghadapi organisasi internasional yang berusaha menimbulkan korban maksimum dari pihak sipil dalam mengejar tujuan teror yang sama sekali tak dapat diterima baik oleh sebagian besar orang,” katanya.
Presiden AS George W Bush memuji Brown karena reaksi yang sangat keras terhadap serangan tersebut. “Itu hanya memperlihatkan bahwa perang melawan kelompok ekstrem ini masih berlangsung,” kata Bush di rumah keluarganya di Kennenbunkport, Maine, saat menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin.

Delapan Tersangka, Tiga Dokter
AKSI teror bom Inggris memiliki kekhasan tersendiri dengan banyaknya dokter yang terlibat. Dari delapan tersangka yang ditahan, tiga orang di antaranya berprofesi dokter dari negara yang berlainan.
Dokter pertama yang ditangkap adalah seorang warga Jordania berkebangsaan Palestina bernama Mohammed Jamil Abdelkader Asha (27). Laporan awal menyebutkan, Asha meraih gelar dokternya di Jordan tahun 2004 silam.
Asha digambarkan oleh keluarga dan sejawatnya saat di universitas di Jordan sebagai dokter cemerlang yang tidak pernah terlibat dalam organisasi ekstrem.
Menurut ayahnya, Jamil Abdelkader Asha, putranya meraih gelar dokter di Jordan pada tahun 2004 dan datang ke Inggris pada tahun yang sama untuk menyelesaikan spesialisasi di bidang neurologi.
Asha dibesarkan di Jordan dan bekerja sebagai dokter junior di Royal Shrewsbury Hospital dan Princess Royal Hospital di Telford. Dia ditahan di Cheshire, Sabtu (30/6) malam, bersama seorang wanita usia 27 tahun yang diduga istrinya.
Dokter lainnya adalah seorang pria berkebangsaan Irak (sebelumnya diberitakan brkebangsaan Iran) yang bekerja di North Staffordshire Hospital, Inggris tengah. Ia menjadi dokter cadangan di rumah sakit tersebut.
Dia diringkus melalui penggeledahan di beberapa rumah di Houston, dekat Paisley, Merseyside, dan di Staffordshire.
Dia diidentifikasi bernama Bilal Abdullah. menurut rencana, lokasi tahanan Abdullah akan dipindahkan ke London. Tentang dokter ini, belum banyak informasi yang diketahui. Dia dilaporkan lulus di Bagdad pada tahun 2004 dan pertama kali tercatat sebagai dokter di Inggris pada tahun 2006.
Dan dokter ketiga yang ditangkap di Bandara Brisbane, Australia, kemarin, belum diungkap jatidirinya secara penuh. Menurut PM Australia John Howard, pria itu adalah warga India yang ditahan saat mencoba kembali ke India dengan tiket sekali jalan.
Sementara Jaksa Agung Australia Philip Ruddock mengatakan, polisi melaksanakan surat perintah penggeledahan di Gold Coast Hospital di Southport, bagian timur Queensland –tempat pria itu bekerja sebagai tenaga registrasi medis dan beberapa tempat di seluruh negara bagian tersebut.
PM Queensland Peter Beattie mengatakan, pria itu bekerja di rumah sakit tersebut sejak September dan sebelumnya bertugas di Liverpool ketika dia menanggapi iklan di Jurnal Kedokteran Inggris (BMJ), Maret 2006.
Di rumah sakit tersebut, ia dipandang sebagai warga teladan dengan referensi yang sangat bagus. Beattie mengatakan, seorang dokter lain, yang juga direkrut dari Liverpool, dimintai keterangan oleh polisi Australia.