Pelajar yang berlindung di tempat ibadah terlibat baku-tembak dengan pasukan keamanan Pakistan, Jumat, setelah pemimpin mereka mengatakan ia dan ratusan pengikutnya lebih memilih mati daripada menyerah.

Sebelumnya, beberapa pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah pesawat Presiden Pervez Musharraf, saat pesawat itu lepas landas dari bandar udara militer Islamabad, kata seorang petugas keamanan. Pemerintah menyatakan kelihatannya tak ada hubungan antara penembakan tersebut dan penerbangan Musharraf untuk memeriksa kerusakan akibat banjir di bagian selatan negeri itu.

Yang menambah kuat perkiraan mengenai resiko terhadap kestabilan, seorang pembom bunuh diri menewaskan enam prajurit di bagian baratlaut negeri tersebut –tempat pengikut kelompok garis keras di tempat ibadah itu memiliki sekutu.

Tak ada tanda bahwa pembom tersebut bertindak untuk mendukung pelajar di dalam tempat ibadah itu, tapi tempat tersebut diketahui memiliki pendukung di wilayah itu.

Musharraf belum secara terbuka mengomentari pengepungan terhadap Lal Masjid (Masjid Merah), tapi telah mendesak lembaga keamanan agar memberi waktu kepada orang tua para pelajar keluar dari madrasah di kompleks tempat ibadah tersebut.

Sedikitnya 19 orang telah tewas dalam beberapa bentrokan yang terjadi di luar kompleks itu Selasa. Kompleks tersebut telah dikepung oleh ratusan personil militer dan polisi.

Kementerian Dalam Negeri Pakistan Sayid Kamal Shah menyeru tokoh agama yang mendukung Taliban di Afghanistan dan menjadi pemimpin di kompleks tersebut Abdul Rashid Ghazi agar menyerahkan diri dan mengatakan ia akan diperlakukan secara manusiawi.

“Banyak nyawa yang berharga berada di tangannya … ia mesti memperlihatkan keberanian dan keluar,” kata Shah.

“Jika ia peduli mengenai keselamatannya, kami siap memberi jaminan,” katanya. Pembom bunuh diri berada di dalam tempat ibadah dan rompi bom bunuh diri telah dibagikan, katanya.

Ketegangan antara pemerintah dan tempat ibadah itu telah meningkat sejak Januari, ketika pelajar garis keras, kebanyakan di antara mereka berusia 20-an dan 30-an tahun, melancarkan aksi pembangkangan untuk mendesak bermacam tuntutan termasuk tindakan terhadap pelaku kejahatan.

Air, gas dan listrik ke tempat ibadah tersebut telah diputus dan makan langka, kata seorang anak laki-laki, salah satu dari sebanyak 20 orang yang meninggalkan tempat itu Jumat.

Hampir satu jam baku-tembak sengit meletus sekitar pukul 18:00 waktu setempat (20:00 WIB). Dua suara ledakan keras mengguncang wilayah tersebut –yang telah menghadapi larangan keluar rumah sejak Kamis, sehingga asap membubung ke udara. Pemerintah, Kamis, menyatakan tembok tempat ibadah itu berlubang akibat ledakan.

Seorang petugas intelijen, yang merujuk kepada penembakan pesawat Musharraf, mengatakan penembakan tersebut yang dilakukan dari satu rumah di dekat bandar udara Islamabad adalah upaya gagal untuk membahayakan jiwa Presiden Pakistan.