Empat orang penumpang kapal yang tenggelam di perairan Pulau Weh, kota Sabang, di provinsi Nangroe Aceh Darussalam, pada Jumat malam diselamatkan oleh kawanan lumba-lumba.

Fajar(23) salah seorang dari empat penumpang yang selamat dalam musibah Jumat malam itu mengaku dikawal puluhan mamalia laut, lumba-lumba saat terombang ambing di perairan Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam akibat dihantam gelombang tinggi.

“Saya menyaksikan puluhan lumba-lumba itu mendekat dan membentuk lingkaran sampai kami tergiring ke bibir pantai di atas karang, setelah kami selamat, binatang tersebut menghilang,” katanya saat ditemui di dermaga Ulee Lhue, Kota Banda Aceh, Sabtu.

Fajar menuturkan, para korban selamat terombang ambing di laut sekitar dua jam lebih.

“Pada awalnya saya sempat ketakutan karena berfikir bahwa puluhan ikan besar itu adalah hiu yang siap memangsa kami. Tapi, setelah biota laut itu mendekat maka baru saya pastikan mereka adalah lumba-lumba yang akan memberi pengawalan kepada kami,” tuturnya.

Dijelaskan, empat dari tujuh penumpang selamat setelah terseret arus sampai ke bibir pantai. “Saat itu kami hanya memegang sebilah papan dari bahagian kapal yang tenggelam sampai terhempas ke batu di bibir pantai kawasan Ujung Keuneukai, Sabang,” tambah dia.

Empat orang yang selamat dan merupakan penumpang kapal boat jenis tompeng (mesin kecil) itu yakni Fajar, Baoihaqi (si Boy), Lukman dan Herman. Sementara tiga orang lainnya yakni Usman (pemilik kapal boat), Bukhari dan Marzuki, hingga pukul 12.00 WIB Sabtu (7/7) masih dinyatakan hilang.

Fajar yang juga nelayan korban tsunami asal Ulee Lhue, Kecamatan Meuraya Kota Banda Aceh, menjelaskan, pihaknya bersama Usman (pemilik boat) hendak mengantarkan lima orang supir dari Banda Aceh ke Kota Sabang.

“Saya diajak pawang Usman (pemilik boat) untuk mengantarkan lima supir yang hendak ke Sabang, setelah mereka tertinggal kapal ferry (KMP Kuala Batee) di pelabuhan Ulee Lhue (Kota Banda Aceh),” katanya.

Ia menuturkan sekitar pukul 14.30 WIB, kapal boat berlayar dari pelabuhan Ulee Lhue menuju perairan lepas, namun di tengah perjalanan tiba-tiba ombak besar yang disertai angin kencang menyerang. dan sekitar pukul 16.00 WIB, kapal tersebut tenggelam dihantam ombak.

“Saat tenggelam, kami terpisah-terpisah, kecuali pawan Usman yang tetap bersama kapalnya. Kemudian, hari mulai gelap dan kami terpisah. Saya memperkirakan tiga orang yang belum ditemukan itu diseret arus ke perairan laut lepas,” jelasnya.