pro kontra dai di pilkada

PILKADA Sulsel digelar 5 November, beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri. Momen bulan Ramadan bakal dimanfaatkan kandidat untuk sosialisasi dan merebut simpati pemilih melalui para dai. Akibatnya, dai sebagai penyeru kebenaran bakal terkotak-kotak pada kandidat gubernur- wakil gubernur tertentu.
Salah seorang tim pemenangan kandidat gubernur-wakil gubernur yang enggan disebut identitasnya mengaku sudah mempersiapkan daftar nama-nama dai untuk mensosialisasikan paket yang diusungnya pada bulan Ramadhan. “Masjid adalah tempat sosialisasi paling efektif. Apalagi dalam suasana Ramadan. Momen ini pasti akan dimanfaatkan seluruh kandidat,” ujarnya.
Hal ini terungkap pada diskusi ilmiah yang digelar Pusat Kajian Agama dan Kemasyarakatan (Pukat) Universitas Islan Negeri (UIN ) Alauddin Makassar di Kampus I UIN, Jl Alauddin, Kamis (12/7).
Ketua Ikatan Dai Muda Profesional Sulsel, Das’ad Latief terang-terangan memproklamirkan diri sebagai bagian dari tim pemenangan Amin-Mansyur. “Saya adalah tim dakwahnya Pak Amin. Sebelum memulai ceramah, saya selalu memperkenalkan diri bahwa saya hadir karena diundang Pak Amin,” kata Das’ad.
Selain Das,ad, Prof Qasim Mathar (Akademisi), Fuad Rmi (akademisi), Dr Mansyur Semma (pakar Komunikasi), dan Rahmat Qayyum (dai) turut jadi nara sumber. Dialog dipenuhi sesak peserta yang berasal dari mahasiswa, dosen, maupun tim kandidat gubernur. Dialog dipandu dosen muda UIN, Dr Hamdan Juhanis.
Meski demikian, sejumlah dai mengaku tidak akan mencampuradukkan antara kepentingan politik dengan materi ceramah. Misalnya, Pembantur Rektor II UIN Prof Dr Ahmad Sewang. Ia mengaku beberapa kali diundang membawakan ceramah oleh peserta pilkada. Tapi ditolak dengan halus.
“Sebenarnya, yang mengkotak-kotakkan para dai adalah tim pemenangan calon gubernur. Karena sering tampil di acaranya maka kita diidentikkan dengan calon tersebut,” kata ustad Rahmat Qayyum kemarin. Rahmat dikenal sebagai dai yang sering menyertai perjalanan kandidat gubernur Syahrul Yasin Limpo. “Hanya saja para dai perlu waspada jangan sampai mempolitisasi agama untuk kepentingan jangka pendek. Ini akan mengkotak-kotakkan umat dan memancing munculknya keretakan,” kata dosen filsafat UIN, Wahyuddin Halim.

ulasan pengamat
Selingkuh Agama dan Kekuasaan
DAI dan pilkada adalah konteks yang sangat kecil. Secara umum, tugas dai adalah menyerukan kebenaran. Kalau ada dai yang terlibat dalam tim kandidat gubernur-wakil gubernur, apakah dai tersebut berani mengkritik kandidatnya.
Kalau tak berani, berarti ia bukan dai yang sesungguhnya. Tapi dalam arti sempit adalah bagian tim sukses kandidat tersebut.
Fenomena banyaknya dai yang terlibat dukung-mendukung calon gubernur adalah hal yang patut disesalkan. Bagaimanapun juga setiap berbicara di depan umum tentu hanya memuji-muji. Pada titik ini sangat rawan karena sering menyertakan ayat-ayat kitab suci untuk menjustifikasi kandidat yang dijagokan. Ada ayat yang multiinterpretasi. Tapi di tangan dai seperti itu, ayat tersebut diartikan tunggal hanya untuk mendukung jagoannya. Sejarah sudah mengajarkan kepada kita tentang dampak dari “perselingkungan” kekuasaan dan agama. Jangan sampai terulang di masa sekarang.

*Prof Dr Qasim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin