Maskapai penerbangan nasional Indonesia, harus segera melakukan pembenahan secara menyeluruh, sehingga mampu memenuhi persyaratan dan standar internasional. Hal itu, dikemukakan Walikota Jakarta Barat, Fajar Panjaitan selaku pimpinan rombongan kesenian Jakarta yang akan mengikuti Festival Senggigi 2007 di Mataram, Sabtu (14/7).

Menurut dia, larangan penerbangan maskapai penerbangan Indonesia ke negara-negara Uni Eropa merupakan satu tantangan. “Larangan penerbangan merupakan tantangan bagi maskapai penerbangan Indonesia untuk segera memperbaiki prosedur tetap, yang memang dipersyaratkan penerbangan internasional,” katanya.

Dengan adanya larangan seperti itu, maka maskapai penerbangan nasional harus segera berbenah diri dan memenuhi persyaratan penerbangan yang telah ditetapkan secara internasional. Dalam waktu tiga bulan mendatang, pesyaratan penerbangan secara internasional harus sudah dapat dipenuhi, kalau tidak maka yang merasakan dampaknya adalah anak bangsa di negeri itu. Karena itu, pemerintahan sekarang harus benar-benar menyikapi larangan tersebut dengan sungguh-sungguh, karena akan menjadi ancaman bagi industri kepariwisataan secara nasional.

“Kalau kita tidak cepat-cepat memperbaikinya, maka dampak negatif terhadap sektor pariwisata akan sangat terasa seperti yang terjadi sekarang, turis mancanegara asal Uni Eropa menolak menggunakan pesawat-pesawat domestik sehingga banyak yang membatalkan rencana kunjungan mereka,” katanya.

Sementara itu, General Manager Garuda Cabang Mataram, Frederik Kaisepo mengaku telah mendapatkan banyak keluhan dari pelaku-pelaku pariwisata NTB, khususnya para pengelola hotel dikawasan Senggigi serta travel agen lain. Pembatalan ribuan wisatawan mancanegara ke Lombok merupakan hal yang sangat serius, karena yang telah membatalkan rencana kunjungan tersebut bukan hanya masyarakat Uni Eropa saja.

Larangan penerbangan yang diterapkan Uni Eropa dan kemudian berlanjut enggannya masyarakat Uni Eropa menggunakan pesawat-pesawat domestik Indonesia, menyebabkan turis dari Australia dan Amerika juga ikut-ikutan. Kebijakan larangan penerbangan tersebut merupakan hal yang sangat serius bagi sektor industri pariwisata NTB, bila hal tersebut berlanjut maka destinasi Lombok sebagai tujuan terancam dihapus dari kalender tahunannya.

Setiap tahun, agen-agen perjalanan di Eropa tersebut menyusun kalender tujuan wisata yang akan dijual dan pada bulan Agustus 2007 itu kalender tersebut akan diterbitkan. “Kalau sampai destinasi pariwisata Lombok terhapus dari kalender tahunan mereka, maka habislah industri di daerah ini, dan hal itu berdampak buruk kepada kelangsungan aktivitas hotel-hotel yang selama ini memiliki pangsa pasar Eropa,” katanya.