oilSebanyak lima investor dalam dan luar negeri telah menyatakan keseriusannya dalam pembangunan proyek kilang minyak berkapasitas 300.000 barel per hari di Bojanegara, Banten.

Mantan Dirut PT Elnusa Rudy Radjab di Jakarta, Selasa mengatakan, kelima investor itu adalah PT Pertamina (Persero), National Iran Oil Refinery and Distribution Company (NIORDC), Medco Energy, SKS Energy (Malaysia), dan Secorp (Arab Saudi).

“Kelima investor itu sudah menyatakan minatnya secara tertulis untuk membangun kilang di Banten,” katanya.

Menurut dia, selain kelima investor itu, Sumitomo (Jepang) dan negara Oman juga menyatakan minatnya membangun kilang tersebut.

Pada 10 Mei 2006 di Jakarta, PT Elnusa, anak perusahaan Pertamina yang diwakili Rudy Radjab dan NIORDC, BUMN milik Pemerintah Iran telah menandatangani proyek Kilang Banten.

Penandatanganan tersebut disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Iran Ahmadinejad.

Sesuai kajian perusahaan konsultan asal Perancis, Axens yang dilakukan awal 2006, proyek diperkirakan menelan dana US$5,6 miliar.

Sebanyak 70% pendanaan direncanakan berasal dari institusi keuangan dan 30% modal sendiri.

Islamic Development Bank (ADB) dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sudah menyatakan akan membiayai proyek.

Rudy mengatakan, pada pertengahan Agustus mendatang, para investor tersebut akan melakukan pertemuan di Teheran, Iran guna membahas porsi kepemilikan proyek.

Berdasarkan komitmen awal, lanjutnya, Pertamina menginginkan kepemilikan 20%, NIORDC 33%, SKS 20%, Medco 5-10% dan Secorp 45%.

“Dari komitmen tersebut, terlihat minat mereka sudah oversubscribe,” katanya.

Rudy mengatakan, saat ini, Pertamina memang masih ragu dengan rencana pembangunan proyek kilang tersebut.

Keraguan Pertamina itu antara lain adalah ketersediaan minyak mentah dari Iran yang diperkirakan hanya 200.000 barel per hari dari kebutuhan 300.000 barel per hari.

Selain itu, kebutuhan gas sebanyak 200 juta kaki kubik per hari yang akan diperuntukkan buat unit hydrogen plant yang akan memecah rantai karbon minyak berat dari Iran menjadi produk BBM.

Selain itu, keraguan Pertamina yang juga dipertanyakan seluruh investor lainnya adalah kebutuhan tax holiday dan tingginya biaya enginering, procurement and construction (EPC) yang diperkirakan mencapai 1,5-1,6 kali dari estimasi awal.

“Namun, sebenarnya Pertamina tidak perlu ragu dengan kendala-kendala tersebut, karena semua sudah ada solusinya,” katanya.

Pertama, lanjutnya, kekurangan crude sebanyak 100.000 barel per hari bisa dicari dari sumber lain seperti Arab Saudi atau Iran sendiri.

Selanjutnya, menyangkut ketersediaan gas, juga bisa didapat dari Iran.

Menurut dia, dirinya sudah mendapat jaminan NIORDC bahwa kilang akan mendapatkan gas alam cair (LNG) dengan harga murah yakni lima dolar per MMBTU.

“Namun, memang kedua solusi itu bisa dilakukan asalkan dirundingkan dengan Iran,” katanya.

Rudy menambahkan, kalaupun tidak mendapatkan gas atau LNG, petroleum coke sebanyak 7.000 ton per hari yang dihasilkan kilang bisa diubah menjadi gas melalui proses gasifikasi.

Kebutuhan investasi gasifikasi itu mencapai US$800 juta.

Mengenai tax holiday, lanjut Rudy, sesuai UU Penanaman Modal yang baru disahkan, pembangunan kilang bisa mendapat insentif “tax holiday” selama 10 tahun.

“Dengan tax holiday selama 10 tahun, maka apabila masa konstruksi selama empat tahun dan titik impas selama enam tahun, proyek sangat ekonomis,” katanya.

Sedang, mengenai kendala mahalnya biaya EPC, menurut dia, diperkirakan saat pembangunan kilang yang dimulai akhir 2008, harga EPC sudah kembali normal, sehingga biaya pembangunan kilang akan tetap US$5-6 miliar.

Ia mengharapkan, pembangunan Kilang Banten bisa segera direalisasikan.

Sebab, sudah terjamin ketersediaan crude yakni dari Iran dan pembelinya yaitu Pertamina.

Apalagi, lanjut Rudy, Indonesia bisa mendapat harga crude Iran hanya US$38 per barel atau US$22 per barel di bawah harga minyak jenis Brent yang US$60 per barel.

“Dengan harga crude seperti itu, hasil studi Axens memperkirakan IRR (internal rate of return) kilang bisa mencapai 17% atau jauh di atas rata-rata kilang lainnya yang hanya 11-12%,” katanya.

Selain itu, menurut dia, pembangunan kilang sudah menjadi komitmen presiden kedua negara dan ketergantungan impor BBM yang masih tinggi.

“Tahun kemarin, Indonesia impor 300.000 barel per hari, tahun ini sudah naik jadi 400.000 barel per hari. Sehingga, Indonesia tidak pernah menikmati harga BBM yang tinggi sekarang ini,” katanya.

Rudy juga mengatakan, sesuai target, seluruh permasalahan pembiayaan diharapkan sudah selesai tahun ini dan akan dilanjutkan dengan pekerjaan desain yang memakan waktu 6-8 bulan.

“Sehingga, akhir 2008 sudah dimulai pembangunannya. Jika pembangunan berlangsung selama empat tahun maka tahun 2012, diharapkan kilang sudah beroperasi,” katanya.